Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah tropis, diantara Benua Asia dan Australia, diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta dilalui garis katulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, terdapat banyak selat dan teluk, menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap perubahan iklim/cuaca.Keberadaan wilayah Indonesia sebagaimana tersebut, kondisi iklimnya akan dipengaruhi oleh fenomena global seperti El Nino, La Nina, Dipole Mode, dan Madden Julian Oscillation (MJO), disamping pengaruh fenomena regional, seperti sirkulasi monsun Asia-Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) yang merupakan daerah pertumbuhan awan, serta kondisi suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia.

Sementara kondisi topografi wilayah Indonesia yang bergunung, berlembah, serta banyak pantai, merupakan fenomena lokal yang menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu. Berdasarkan hasil analisis data periode 30 tahun (1971-2000), secara klimatologis wilayah Indonesia terdapat 293 pola iklim, dimana 220 pola merupakan Zona Musim (ZOM) yaitu mempunyai perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan periode musim kemarau (pola Monsun), sedangkan 73 pola lainnya adalah Non Zona Musim (Non ZOM). Daerah Non ZOM pada umumnya memiliki ciri mempunyai 2 kali puncak hujan dalam setahun (pola Ekuatorial), sepanjang tahun curah hujannya tinggi atau rendah, dan waktu terjadinya musim hujan dan musim kemarau kebalikan dengan daerah ZOM (pola Lokal).

A. Fenomena Global yang Mempengaruhi Iklim / Musim di Indonesia

1. El Nino dan La Nina

El Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu muka laut di Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3,4) atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya).  Sementara, sejauhmana pengaruhnya El Nino di Indonesia, sangat tergantung dengan kondisi perairan wilayah Indonesia.  Fenomena El Nino yang berpengaruh di wilayah Indonesia dengan diikuti berkurangnya curah hujan secara drastis, baru akan terjadi bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin. Namun bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup hangat tidak berpengaruh terhadap kurangnya curah hujan secara signifikan di Indonesia.  Disamping itu, mengingat luasnya wilayah Indonesia, tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino.

Sedangkan La Nina merupakan kebalikan dari El Nino ditandai dengan anomali suhu muka laut negatif (lebih dingin dari rata-ratanya) di Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3,4).  Fenomena La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat bila dibarengi dengan menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia.  Demikian halnya El Nino, dampak La Nina tidak berpengaruh ke seluruh wilayah Indonesia .

2.  Dipole Mode

Dipole Mode merupakan fenomena interaksi laut–atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera.  Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Indeks (DMI).

Untuk DMI positif, umumnya berdampak kurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, sedangkan nilai DMI negatif, berdampak meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.

  1. 3. Madden Julian Oscillation

Madden Julian Oscillation (MJO) mengindikasikan osilasi aktivitas pertumbuhan awan-awan sepanjang jalur dimulai dari atas perairan Afrika Timur hingga perairan Pasisfik bagian barat (utara Papua). Periode osilasinya relatif pendek, sekitar 30-50 hari (intra seasonal). Dengan demikian analisis MJO terhadap penyusunan Prakiraan Musim Hujan 2009/2010, lebih digunakan sebagai bahan pertimbangan khususnya untuk memprakirakan Awal Musim Hujan 2009/2010.

B.  Fenomena Regional yang Mempengaruhi Iklim / Musim di    Indonesia

1.  Sirkulasi Monsun Asia – Australia

Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun yang mengakibatkan sirkulasi angin di Indonesia umumnya adalah pola monsun, yaitu sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah setiap setengah tahun sekali. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di Indonesia. Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di Indonesia.

2.   Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical   Convergence Zone / ITCZ)

ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi selalu berubah mengikuti pergerakan posisi matahari ke arah utara dan selatan khatulistiwa.  Wilayah Indonesia yang berada di sekitar khatulistiwa, maka pada daerah-daerah yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadinya pertumbuhan awan-awan hujan.

3.  Suhu Muka Laut di Wilayah Perairan Indonesia

Kondisi suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.  Jika suhu muka laut dingin berpotensi sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, sebaliknya panasnya suhu muka laut berpotensi cukup banyaknya uap air di atmosfer.

  1. A. Kondisi Dinamika Atmosfer dan Laut

Dinamika atmosfer dan laut dipantau dan diprakirakan berdasarkan 6 (enam) fenomena alam, yaitu 3 fenomena global dan 3 fenomena regional. Monitoring dan prakiraan kondisi dinamika atmosfer dan laut yang akan terjadi selama Musim Hujan 2009/2010, adalah :

1.  Monitoring dan Prakiraan Fenomena Global

a.  El Nino – La Nina

Pada akhir Agustus 2009 kondisi di Ekuator Pasifk Tengah (Nino3-4) masih menunjukkan fenomena  El Nino lemah, dimana fenomena ini telah terlihat sejak awal Juni 2009, dan mencapai puncaknya pada Juli 2009 dengan indeks El Nino sekitar +0.88oC. Namun memasuki Agustus 2009 intensitasnya mulai menurun hingga indek berharga sekitar +0.52oC, selanjutnya memasuki bulan September 2009 intensitas El Nino diprediksi akan menguat pada kisaran moderate.

Beberapa analisis menunjukkan bahwa fenomena El Nino akan terus berlangsung hinga awal tahun 2010 dengan intensitas El Nino moderate. Dalam kaitan ini memberikan indikasi, adanya peluang keterlambatan awal Musim Hujan 2009/2010 terjadi di beberapa Zona Musim (ZOM) di Indonesia.

Indeks Osilasi Selatan (SOI) sejak Mei sampai dengan Juli 2009 bernilai negatif berkisar -5.1 s/d -2.3, sedangkan memasuki bulan Agustus 2009 nilainya meningkat berharga positif (+1.6). Nilai ini masih dibawah  ambang  pengaruhnya (<+10 dan >-10).  Kondisi demikian memberikan indikasi bahwa, selama kejadian El Nino, aktivitas sirkulasi angin pasat diperhitungkan tidak terlalu mengganggu ke wilayah Indonesia.

  1. b. Dipole Mode

Nilai Dipole Mode Indeks (DMI) dalam 3 bulan terakhir adalah : +0.22 (Juni 2009) ; -0.27 (Juli 2009) dan +0.28 (Agustus 2009). Sementara, prediksi Dipole Mode Indek (DMI) pada bulan-bulan September hingga Desember 2009 berkisar pada nilai +0.3 sd +0.2.  Nilai ini masih berada pada kondisi netral (+/- 0.4oC). Dengan demikian, mengindikasikan bahwa pada Musim Hujan 2009/2010, pergerakan uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia akan berada pada intensitas normal.

  1. c. Madden Julian Oscillation (MJO)

Monitoring terhadap aktivitas MJO, terkait kondisi gerakan vertikal di wilayah Indonesia pada 22 Agustus 2009 menunjukkan intensitas bernilai 0.8, dan selanjutnya diprakirakan akan terus melemah menjelang akhir Agustus 2009, kondisi demikian masih berada pada nilai normalnya (<1.0).  Lebih lanjut, hal ini memberikan indikasi tidak adanya penambahan maupun penekanan pembentukan awan-awan hujan di wilayah Indonesia (kondisi netral).

2.   Monitoring dan Prakiraan Fenomena Regional

  1. a. Sirkulasi Monsun Asia – Australia

Hingga akhir Agustus 2009 sirkulasi monsun di Indonesia umumnya masih dalam kisaran normalnya. Gangguan-gangguan yang terjadi umumnya disebabkan adanya pola-pola tekanan rendah di wilayah Laut China Selatan dan timur Filipina. Sedangkan di wilayah selatan ekuator, pola tekanan rendah terjadi di Samudera Hindia barat Sumatera. Kondisi ini menyebabkan terjadinya curah hujan cukup tinggi di beberapa wilayah seperti sekitar Sumatera, Kalimatan dan Sulawesi. Diprakirakan bahwa monsun Asia selatan/tenggara akan melemah pada akhir Agustus 2009 hingga awal September 2009.

  1. b. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone / ITCZ)

Posisi ITCZ pada akhir Agustus 2009 masih berada di sekitar utara ekuator dan cenderung bergerak ke arah selatan mengikuti pergerakan tahunannya.

Jika dibandingkan terhadap posisi rata-ratanya, posisi tersebut masih berada dalam kisaran rata-rata, sehingga potensi kejadian hujan di setiap wilayah diprakirakan akan mendekati normal sesuai kondisi rata-rata wilayah masing-masing.

  1. c. Suhu Muka Laut di Wilayah Perairan Indonesia

Hingga akhir Agustus 2009 kondisi suhu muka laut di perairan Indonesia, beberapa perairan berada di atas nilai rata-rata atau normalnya, yaitu sekitar selatan Sumatera, Laut Jawa, dan sekitar Laut Maluku, dengan anomali suhu berkisar +0.5°C s/d  +2.0°C.  Sementara daerah dengan suhu muka laut relatif hangat berada diperairaan wilayah Utara Indonesia dan Lautan Hindia sebelah barat Sumatera dengan suhu > 30.0°C, sedangkan daerah dengan suhu muka laut relatif dingin berada di Lautan Hindia selatan Jawa, laut arafura dan Laut Timor dengan suhu <27.0°C.

Suhu muka laut di Indonesia selama Musim Hujan 2009/2010 diprakirakan sebagai berikut :

1)    Wilayah perairan Lautan Hindia sebelah barat Sumatera, Laut Sulawesi, Laut Timor dan Laut di sekitar Papua diprakirakan akan tetap panas hingga November 2009 dengan anomali suhu berkisar +0.5°C s/d +1.0°C, bulan-bulan lainnya berada pada kisaran normalnya.

2)    Wilayah perairan selatan Jawa diprakirakan akan cenderung mendingin pada bulan September s/d Oktober 2009, dengan anomali suhu berkisar -0.5°C s/d -1oC, selanjutnya akan berkisar pada normalnya.

3)    Wilayah perairan Indonesia lainnya diprakirakan akan berada pada kondisi normalnya dengan  anomali   suhu berkisar antara -0.5oC s/d +0.5 °C.

B.  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 Pada 220 Zona Musim (ZOM)

1.  Prakiraan ”Awal” Musim Hujan 2009/2010

-   September  2009                        :     7 ZOM (  3.2% dari 220 ZOM)

-   Oktober  2009                              :   65 ZOM (29.5% dari 220 ZOM)

-   November  2009                         : 103 ZOM (46.8% dari 220 ZOM)

-   Desember  2009                         :   45 ZOM (20.5% dari 220 ZOM)

2.  Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap

Rata-Ratanya (Periode 1971–2000)

-   Maju dari rata-ratanya                :     7 ZOM (  3.2% dari 220 ZOM)

-   Sama dengan rata-ratanya        :   99 ZOM (45.0% dari 220 ZOM)

-   Mundur dari rata-ratanya           : 114 ZOM (51.8% dari 220 ZOM)

3.  Prakiraan ”Sifat Hujan“ Musim Hujan 2009/2010

-  Atas Normal (AN)             :     8 ZOM (  3.6% dari 220 ZOM)

-  Normal  (N)                                   : 135 ZOM (61.4% dari 220 ZOM)

-  Bawah Normal (BN)                    :   77 ZOM (35.0% dari 220 ZOM)

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 secara umum dapat disimpulkan

sebagai berikut  :

1)    Awal Musim Hujan 2009/2010 di 220 Zona Musim (ZOM) diprakirakan umumnya mulai bulan November 2009 dan Oktober 2009. Beberapa ZOM di Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT Musim Hujan 2009/2010 baru dimulai pada Desember 2009, sedangkan beberapa ZOM di Sumatera Awal Musim Hujan 2009/2010 sudah dimulai September 2009.

2)    Jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun (1971-

2000), Awal Musim Hujan 2009/2010 umumnya mundur dan sama

terhadap rata-ratanya.

3)    Sifat Hujan selama Musim Hujan 2009/2010 di sebagian besar Zona Musim (ZOM) diprakirakan Normal (N) dan Bawah Normal (BN).

C.  Prakiraan Hujan Kumulatif Periode Oktober 2009/Maret 2010 di Luar Zona Musim (Non ZOM)

  1. Curah hujan kumulatif selama periode Oktober 2009 sampai dengan  Maret 2010 di wilayah luar Zona Musim, diprakirakan umumnya antara 1000 – 2000 mm, kecuali sebagian besar Sulawesi Tengah, Gorontalo bagian selatan, Sulawesi Selatan bagian tengah, Sulawesi Tenggara bagian timur, pulau Buru bagian selatan, dan sebagian pulau Seram bagian selatan curah hujannya kurang dari 1000 mm, sedangkan pesisir barat Sumatera Barat, sekitar Bogor, Kalimantan Barat bagian timur, sebagian Maluku Utara, sekitar Nabire, dan Tanah Merah bagian barat curah hujan lebih dari 2000 mm.

2. Sifat hujan kumulatif selama periode Oktober 2009 sampai dengan  Maret 2010 di wilayah luar Zona Musim, diprakirakan umumnya Normal (N), kecuali beberapa tempat di Aceh, Bengkulu, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Bawah Normal (BN). Sementara itu, beberapa tempat di Papua sifat hujannya Atas Normal (AN).

D.   Luas Areal Persawahan Terhadap Prakiraan Musim Hujan 2009/ 2010 Pada 220 Zona Musim (ZOM)

  1. 1. Luas Areal Persawahan Terhadap Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010
  1. a. Persawahan Irigasi

Dasarian I – III September 2009          :         15.850,35  hektar

Dasarian I – III Oktober 2009                :       106.166,04 hektar

Dasarian I – III November 2009           :       140.574,90 hektar

Dasarian I – III Desember 2009           :         44.743,18 hektar

  1. b. Persawahan Non Irigasi

Dasarian I – III September 2009          :         19.258,03  hektar

Dasarian I – III Oktober 2009                :       987.025,13 hektar

Dasarian I – III November 2009           :    1.889,809,00 hektar

Dasarian I – III Desember 2009           :       552.590,79 hektar

2.    Luas Areal Persawahan Terhadap Maju-Mundurnya Awal Musim Hujan 2009/2010

  1. a. Persawahan Irigasi

Maju dari rata-ratanya               :        27.975,29  hektar

Sama dengan rata-ratanya       :      171.138,35 hektar

Mundur dari rata-ratanya           :      108.220,83 hektar

  1. b. Persawahan Non Irigasi

Maju dari rata-ratanya               :     184.940,12  hektar

Sama dengan rata-ratanya       :  1.284.296,51 hektar

Mundur dari rata-ratanya           :  1.979.446,33 hektar

  1. 3. Luas Areal Persawahan Terhadap Prakiraan “Sifat Hujan”  Musim Hujan 2009/2010

a. Persawahan Irigasi

Atas Normal ( AN )                     :          16.695,46 hektar

Normal ( N )                                 :      210.628,01 hektar

Bawah Normal ( BN )                 :        80.011,00 hektar

b.  Persawahan Non Irigasi

Atas Normal ( AN )                     :        79.087,73  hektar

Normal ( N )                                 :   1.976.293,27 hektar

Bawah Normal ( BN )                 :   1.393.301,96  hektar

Rincian selengkapnya luas areal persawahan terhadap Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada Zona Musim tercantum pada Tabel 12, 13, 14.

PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2009/2010 PADA

ZONA MUSIM (ZOM) DI INDONESIA

A. SUMATERA (ZOM nomor 1 s/d 26)

A.1. “Awal” Musim Hujan 2009/2010 pada 26 Zona Musim (ZOM) di    Sumatera, diprakirakan berkisar pada bulan September, Oktober dan   November 2009.

Sebanyak 7 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III September 2009, meliputi Aceh Timur,  Langkat bagian utara, Deli Serdang bagian utara,  Pasaman bagian utara, Agam bagian timur, sebagian Tanah Datar, Lima Puluh Koto,  Sawahlunto/Sijunjung, Riau daratan, dan Tanjung Jabung bagian timur.

Sebanyak 14 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Oktober 2009, meliputi Langkat bagian selatan, Deli Serdang bagian selatan, Sumatera Utara bagian tengah, sebagian besar Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu bagian utara, Lampung bagian utara, dan sebagian besar Pangkal Pinang.

Sebanyak  5 ZOM, awal musim Hujan  antara dasarian I – III November 2009, meliputi Aceh Besar, Aceh Utara, Pidie bagian utara, Lampung Selatan bagian timur, Lampung Timur, Kota Metro, Tenggamus, Lampung Selatan bagian barat, dan Bangka bagian selatan.

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim hujan periode 1971-2000, maka sebanyak 17 ZOM sama dengan rata-ratanya dan sebanyak 9 ZOM mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

A.2. “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010 pada 26 Zona Musim di Sumatera, diprakirakan umumnya bervariasi dari Bawah Normal (BN) hingga Atas Normal (AN).

Sebanyak 4 ZOM, sifat hujannya Atas Normal, meliputi sebagian besar Jambi, dan sebagian besar Sumatera Selatan.

Sebanyak  12 ZOM, sifat hujannya Normal, meliputi Riau daratan, Pasaman bagian utara, Agam bagian timur, sebagian Tanah Datar, Lima Puluh Koto, Sawahlunto/Sijunjung, Indragiri Hulu bagian selatan, Bungotebo, Sarolangun bagian utara, Bengkulu Utara bagian barat, Sarolangun bagian selatan, sebagian besar Lampung, dan Pangkal Pinang.

Sebanyak 10 ZOM, sifat hujannya Bawah Normal, meliputi NAD, sebagian Sumatera Utara, Rejang Lebong, Musi Rawas bagian barat, Lahat, Muara Enim bagian selatan, Ogan Komering Ilir bagian barat, Lampung Barat, dan Ogan Komering Ilir bagian selatan.

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada 26 Zona Musim di Sumatera, secara rinci disajikan pada Tabel 1. Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Sumatera disajikan pada Gambar A.1, Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya disajikan pada Gambar A.2, dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010

Tabel 1 :  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 di Sumatera

No. ZOM Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Antara Perbandi-ngan Thd Rata-rata

(Dasarian)

Sifat Hujan Luas Sawah
Irigasi

(Ha)

Non Irigasi

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7
1 Aceh Besar Nov I – Nov III +3 BN 2461.21 8262.06
2 Aceh Utara, Pidie bagian utara Nov I – Nov III +2 BN 7136.92 0.00
3 Aceh Tengah Okt II – Nov I +2 BN 1616.44 3877.47
4 Aceh Timur Agt III – Sep II 0 BN 1110.42 0.00
5 Langkat bagian utara, Deli Serdang bagian utara Agt III – Sep II 0 BN 1659.80 0.00
6 Langkat bagian selatan, Deli Serdang bagian selatan Sep III – Okt II 0 BN 638.02 2711.07
7 Simalungun bagian selatan, sebagian Tapanuli bagian utara, Tapanuli Selatan bagian timur Okt II – Nov I 0 BN 2296.02 1626.58
8 Pasaman bagian utara, Agam bagian timur, sebagian Tanah Datar, Lima Puluh Koto Sep II – Okt I 0 N 2147.61 0.00
9 Indragiri Hulu bagian selatan, Sawahlunto/Sijunjung Sep II – Okt I 0 N 1326.95 0.00
10 Sebagian besar Kampar Agt III – Sep II 0 N 2906.48 0.00
1 2 3 4 5 6 7
11 Bengkalis, Kampar bagian timur Sep I – Sep III 0 N 43.81 0.00
12 Sebagian besar Indragiri Hilir Sep III – Okt II 0 AN 1.37 259.66
13 Sebagian besar Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat bagian timur Sep II – Okt I 0 AN 6655.28 19258.03
14 Kota Jambi, Muara Jambi, Batanghari, Tanjung Jabung Barat bagian barat, Tebo, Musi Banyuasin bagian utara Okt I – Okt III 0 AN 1183.46 7873.59
15 Bungo, Merangin bagian utara, Sarolangun bagian timur Sep III – Okt II 0 N 3915.67 0.00
16 Kerinci, Merangin bagian selatan, Sarolangun bagian barat, Bengkulu Utara bagian barat Okt II – Nov I 0 N 3800.66 0.00
17 Rejang Lebong, Musi Rawas bagian barat Sep III – Okt II +3 BN 710.72 166.41
18 Lahat, Muara Enim bagian selatan, Ogan Komering Ilir bagian barat Sep III – Okt II +2 BN 1627.99 398.67
19 Sebagian besar Musi Rawas, Musi Banyuasin, Muara Enim, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir bagian timur Sep III – Okt II 0 AN 6335.95 0.00
20 Lampung Barat, Ogan Komering Ilir bagian selatan Okt II – Nov I +1 BN 1315.05 0.00
21 Lampung Tengah bagian utara, Lampung Utara, Way Kanan, Tulang Bawang Okt II – Nov I 0 N 3782.56 0.00
22 Lampung Selatan bagian timur, Lampung Timur, Kota Metro Nov I – Nov III 0 N 11969.28 0.00
23 Tenggamus, Lampung Selatan bagian barat Nov II – Des I 0 N 2294.86 1626.63
24 Bangka bagian barat Okt I – Okt III +3 N 0.00 1304.29
25 Bangka bagian utara Sep III – Okt II +3 N 0.00 0.00
26 Bangka bagian selatan Okt III – Nov II +1 N 282.96 0.00

B.  J A W A (ZOM nomor 27 s/d 120)

B.1. “Awal” Musim Hujan 2009/2010 pada 94 Zona Musim (ZOM) di Jawa, diprakirakan berkisar pada bulan Oktober, November dan Desember 2009.

Sebanyak 34 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Oktober 2009, meliputi Lebak, sebagian Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah, Malang, Lumajang, dan Jember bagian barat.

Sebanyak 44 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III November 2009, meliputi Pandeglang, bagian selatan Serang/Tangerang/DKI Jakarta, Sukabumi bagian utara, bagian selatan Bekasi/Karawang, Purwakarta, sebagian Subang, Indramayu, Cirebon, Jatiwangi, Majalengka, Kuningan, sebagian Ciamis, Garut bagian utara, Brebes, Tegal, sebagian Banyumas, Jawa Tengah bagian timur, D.I. Yogyakarta, dan sebagian besar Jawa Timur.  .

Sebanyak 16 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Desember 2009, meliputi bagian utara Serang/Tangerang/DKI Jakarta, bagian utara Bekasi/Karawang, sekitar Pamanukan, pesisir utara Jawa Timur, sebagian besar Banyuwangi, dan sebagian besar Madura.

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim hujan periode 1971-2000, maka sebanyak 5 ZOM maju (lebih awal) dari rata-ratanya, sebanyak 34 ZOM sama dengan rata-ratanya, dan sebanyak 55 ZOM mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

B.2. “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010 pada 94 Zona Musim di Jawa, diprakirakan umumnya Normal (N) dan Bawah Normal (BN)

Sebanyak 2 ZOM, sifat hujannya Atas Normal, meliputi Brebes bagian selatan, Tegal bagian selatan, sebagian Pemalang bagian selatan, Pemalang bagian selatan, Pekalongan bagian selatan, Banjarnegara bagian barat, dan Purbalingga bagian utara.

Sebanyak 53 ZOM, sifat hujannya Normal, meliputi Serang, Tangerang/DKI Jakarta/Bekasi, sebagian Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan sebagian besar Jawa Timur.

Sebanyak 39 ZOM, sifat hujannya Bawah Normal, meliputi Pandeglang, Lebak, Sukabumi, bagian selatan Cianjur/Garut, Tasikmalaya, sebagian Ciamis, Kuningan, sebagian Jawa Tengah bagian timur, sebagian Magelang/Banjarnegara/Wonosobo/Magelang, Purworejo bagian utara, dan sebagian Surakarta.

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada 94 Zona Musim di Jawa, secara rinci disajikan pada Tabel 2.  Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Jawa Barat , Banten, dan DKI Jakarta disajikan pada Gambar B.1.a, Peta Perbandingan Prakiraan awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya disajikan pada Gambar B.1.b, dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 disajikan pada Gambar B.1.c.

Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta disajikan pada Gambar B.2.a, Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya disajikan pada Gambar B.2.b, dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 disajikan pada Gambar B.2.c.

Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Jawa Timur disajikan pada Gambar B.3.a, Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap rata-ratanya di Jawa Timur disajikan pada Gambar B.3.b, dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 disajikan pada Gambar B.3.c.

Tabel 2 :  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 di Jawa

No. ZOM Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Antara Perbandi-ngan Thd Rata-rata

(Dasarian)

Sifat Hujan Luas Sawah
Irigasi

(Ha)

Non Irigasi

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7
27 Pandeglang bagian barat Okt III – Nov II +4 BN 1652.54 29475.78
28 Pandeglang bagian utara, Serang bagian selatan Okt III – Nov II +3 N 1196.28 15942.15
29 Lebak bagian barat, Pandeglang bagian timur Sep III – Okt II 0 BN 2039.35 22758.85
30 Serang bagian utara, Tengerang bagian utara, DKI Jakarta bagian utara, Bekasi bagian utara Nov III – Des II 0 N 12551.28 63830.01
31 Serang bagian tenggara, Tangerang bagian selatan, DKI Jakarta bagian selatan, Bekasi bagian selatan, Kota Depok Nov I – Nov III +4 N 5018.10 30993.61
32 Karawang bagian barat laut Nov III – Des II 0 N 5130.28 30287.98
1 2 3 4 5 6 7
33 Pantai utara Karawang/Subang/Indramayu Des I – Des III 0 N 3750.33 51880.85
34 Sebagian Sukabumi bagian barat, Kota Palabuhanratu Okt III – Nov II +2 BN 0.00 1529.53
35 Sukabumi bagian utara, Kota Sukabumi Okt III – Nov II +3 BN 859.73 15376.33
36 Sukabumi bagian selatan Okt II – Nov I +3 BN 50.17 3837.03
37 Cianjur bagian tengah, Sukabumi bagian timur Okt II – Nov I +2 N 830.72 774.43
38 Cianjur bagian timur, sebagian Bandung bagian barat Okt II – Nov I +2 N 377.39 932.25
39 Cianjur bagian utara, Bandung bagian utara, Purwakarta bagian selatan Okt I – Okt III +2 N 4328.59 48156.19
40 Purwakarta bagian utara, Subang bagian barat daya Okt III – Nov II +3 N 847.91 31024.17
41 Karawang bagian tengah, sebagian Subang bagian utara Okt III – Nov II +2 N 5431.56 73168.02
42 Indramayu bagian tengah, sebagian Subang bagian timur Okt III – Nov II 0 N 4429.97 76423.75
43 Sebagian Indramayu bagian utara Nov I – Nov III 0 N 4105.19 44556.98
44 Indramayu bagian timur, sebagian Cirebon bagian utara Okt III – Nov II 0 N 3854.41 51984.95
45 Majalengka bagian utara Nov I – Nov III 0 N 445.34 44528.19
46 Subang bagian tenggara, Sumedang bagian utara Okt II – Nov I 0 N 14.06 29242.16
47 Bandung bagian timur, Kota Bandung, sebagian Sumedang bagian barat Okt II – Nov I 0 N 4381.55 32131.27
48 Sebagian Sumedang bagian selatan Okt II – Nov I +2 N 57.03 10569.07
49 Bandung bagian selatan, sebagian Garut bagian utara Okt III – Nov II +3 N 0.00 50.18
50 Sebagian besar Garut bagian utara, Tasikmalaya bagian barat, Majalengka bagian selatan Okt  I – Okt III +2 BN 1713.99 47912.07
1 2 3 4 5 6 7
51 Cianjur bagian selatan, Garut bagian selatan, Tasikmalaya bagian selatan Sep III – Okt II +1 BN 567.13 2662.49
52 Ciamis bagian barat, Tasikmalaya bagian tengah Okt II – Nov I +3 BN 131.20 681.77
53 Ciamis bagian utara, sebagian Tasikmalaya bagian utara, Kuningan bagian selatan Okt III – Nov II +2 BN 1199.67 26395.55
54 Kuningan bagian tengah Nov I – Nov III +2 BN 2293.39 53668.55
55 Cirebon bagian utara, Brebes bagian utara, Kota Tegal, Tegal bagian utara Nov II – Des I 0 N 4900.13 45160.30
56 Ciamis bagian timur, Cilacap bagian tengah Okt III – Nov II 0 N 4958.32 27741.61
57 Cilacap bagian selatan, Kebumen bagian selatan Okt I – Okt III 0 N 2409.44 44977.27
58 Banyumas, Purbalingga bagian selatan Okt I – Okt III 0 N 4400.94 41862.09
59 Brebes bagian selatan, sebagian Tegal bagian barat Nov I – Nov III 0 N 5479.18 2128.08
60 Brebes bagian selatan, Tegal bagian selatan, sebagian Pemalang bagian selatan Okt I – Okt III -1 AN 720.81 14700.57
61 Pemalang bagian selatan, Pekalongan bagian selatan, Banjarnegara bagian barat, Purbalingga bagian utara Sep III – Okt II -1 AN 1798.60 36314.16
62 Bagian tengah Brebes/Tegal/Pekalongan Okt I – Okt III 0 N 3798.16 49549.97
63 Batang utara Pekalongan/ Pemalang/Batang Okt I – Okt III -1 N 5784.13 0.00
64 Batang bagian selatan Okt III – Nov II +2 N 261.43 55875.33
65 Batang bagian utara, Kendal bagian utara, Demak bagian barat ,Kota Semarang Okt II – Nov I 0 N 6861.95 4963.82
66 Semarang bagian utara, Grobogan bagian barat, sebagian Kendal bagian timur Okt I – Okt III 0 BN 1410.71 11047.83
67 Sebagian besar Temanggung, Magelang bagian barat Okt I – Okt III 0 BN 696.75 3088.68
68 Banjarnegara bagian timur, Wonosobo bagian utara Okt II – Nov I +1 N 671.50 15777.71
1 2 3 4 5 6 7
69 Banjarnegara bagian selatan, Banyumas bagian timur, Magelang bagian barat, Purworejo bagian utara, Temanggung bagian barat daya, Wonosobo bagian selatan Okt II – Nov I +1 BN 2969.50 49410.97
70 Bantul bagian selatan, Kebumen bagian selatan, Gunung Kidul bagian barat daya, Purworejo bagian selatan, Kulon Progo bagian selatan Okt III – Nov II -1 N 3316.15 12706.31
71 Kebumen bagian timur, Kulon Progo bagian barat, Purwerejo bagian Tengah Okt II – Nov I +1 BN 2609.71 24075.38
72 Magelang bagian barat, sebagian Kulon Progo bagian utara Okt II – Nov I 0 BN 1636.92 662.79
73 Magelang bagian utara, Salatiga bagian utara, Boyolali bagian tengah, Karanganyar bagian selatan, Sleman bagian utara Okt III – Nov II +1 N 2649.13 94087.11
74 Boyolali bagian barat, Salatiga bagian selatan Okt III – Nov II -2 N 554.12 87066.31
75 Bantul bagian utara, Sleman, Klaten, Boyolali bagian selatan, Gunung Kidul bagian utara, Kota Yogyakarta, Kulon Progo bagian tengah Okt III – Nov II -1 N 7646.89 301.06
76 Boyolali bagian timur, Karanganyar bagian selatan, Grobogan bagian selatan, Surakarta bagian utara, Wonogiri bagian utara, Ngawi bagian barat Okt II – Nov I 0 N 5327.36 88162.15
77 Karanganyar bagian utara, Sragen bagian selatan Okt II – Nov I +2 N 1005.44 30915.58
78 Demak bagian timur, Kudus bagian selatan, Grobogan bagian Tengah, Pati bagian selatan Sep III – Okt II -1 N 7994.23 27036.35
79 Kudus bagian utara, Jepara bagian selatan, Pati bagian selatan Okt II – Nov I 0 BN 2474.28 33500.19
1 2 3 4 5 6 7
80 Pati bagian  timur, Jepara bagian utara Nov II – Des I +2 BN 1385.34 29582.36
81 Pati bagian timur Nov II – Des I +1 BN 1623.46 23981.78
82 Grobogan bagian timur Nov I – Nov III +2 BN 1187.74 10240.49
83 Sebagian besar Gunung Kidul, Sukoharjo bagian selatan, Wonogiri bagian tengah Nov II – Des I +2 N 2609.57 54358.03
84 Blitar bagian selatan, Pacitan bagian selatan, Tulungagung bagian selatan, Trenggalek bagian selatan Okt III – Nov II +3 N 722.32 119949.07
85 Magetan bagian selatan, Pacitan bagian utara, Ponorogo bagian tengah, Trenggalek bagian utara, Tulungagung bagian barat Nov II – Des I +2 N 1667.59 196468.71
86 Kediri bagian barat, Tulungagung bagian utara, Ponorogo bagian timur laut Nov I – Nov III +3 BN 0.00 93712.60
87 Blora bagian selatan, Karanganyar bagian timur, Bojonegoro bagian selatan, Magetan bagian tengah, Madiun, Ngawi bagian timur Nov I – Nov III +2 BN 1458.11 42320.80
88 Blora bagian tengah, Tuban bagian selatan, Bojonegoro bagian selatan Nov I – Nov III +1 BN 4843.63 256114.00
89 Blora bagian utara, Rembang, Tuban bagian utara, Bojonegoro bagian utara Nov II – Des I +1 BN 4131.92 22139.77
90 Gresik bagian utara, Kota Surabaya, Tuban bagian timur, Lamongan bagian utara Des I – Des III +1 BN 695.79 110249.39
91 Gresik bagian selatan, Lamongan bagian selatan, Jombang bagian tengah dan utara, Mojokerto bagian utara, Nganjuk bagian tengah, Sidoarjo bagian utara Nov II – Des I +1 N 2329.92 0.00
92 Jombang bagian tenggara, sebagian Malang bagian utara, Mojokerto bagian selatan Okt III – Nov II +1 N 2115.63 57526.55
1 2 3 4 5 6 7
93 Blitar bagian utara, Kediri bagian tengah, Malang bagian barat laut, Nganjuk bagian timur, Tulungagung bagian timur Nov II – Des I 0 N 1517.73 12623.65
94 Blitar bagian timur laut, Kediri bagian tenggara Nov I – Nov III 0 N 0.00 5042.93
95 Blitar bagian timur, Malang bagian tengah, Kota Malang bagian selatan, Pasuruan bagian selatan Okt II – Nov I 0 BN 1929.40 49942.84
96 Lumajang bagian barat, sebagian Malang bagian timur Okt II – Nov I 0 BN 320.73 24503.58
97 Lumajang bagian barat daya Okt I –Okt III 0 BN 13.99 4313.77
98 Jember bagian barat daya, Lumajang bagian timur Okt I –Okt III 0 N 819.59 18384.32
99 Jember bagian barat laut Nov I – Nov III +3 BN 0.00 39403.54
100 Jember bagian barat Okt II – Nov I +2 BN 617.62 43059.71
101 Jember bagian tengah Okt II – Nov I +2 BN 2.66 2048.28
102 Bondowoso bagian barat, Jember bagian timur laut Okt III – Nov II +2 BN 203.00 29775.53
103 Jember bagian timur, sebagian Bondowoso bagian selatan Nov III – Des II +2 BN 587.40 0.00
104 Sebagian Pasuruan, Sidoarjo bagian timur, Kota Pasuruan Nov III – Des II +1 N 1872.61 17173.19
105 Pasuruan bagian tenggara, Probolinggo bagian barat Nov II – Des I 0 BN 28.47 21178.48
106 Pasuruan bagian timur, Probolinggo bagian utara Des I – Des III 0 BN 896.43 20289.74
107 Bondowoso bagian Barat, Probolinggo bagian selatan Okt III – Nov II +1 BN 529.96 2417.67
108 Probolinggo bagian tengah Nov III – Des II 0 BN 555.55 44730.29
109 Bondowoso bagian utara, Situbondo bagian tengah Des I – Des III 0 N 1061.43 49089.50
110 Banyuwangi bagian utara, sebagian Situbondo bagian timur Nov III – Des II 0 N 486.33 6091.09
111 Sekitar Gunuing Ijen-Banyuwangi Nov III – Des II +2 N 0.00 38261.84
1 2 3 4 5 6 7
112 Banyuwangi bagian barat, Jember bagian selatan Nov II – Des I +3 N 798.49 0.00
113 Banyuwangi bagian timur Des I – Des III +2 N 1518.87 3981.70
114 Bangkalan bagian selatan Nov III – Des II 0 BN 74.74 11098.79
115 Bangkalan bagian barat dan tengah, Pamekasan bagian barat Nov III – Des II +1 BN 452.21 0.00
116 Sampang bagian tengah, Pamekasan bagian tengah Nov III – Des II +2 BN 82.79 55548.40
117 Sampang bagian timur, sebagian Bangkalan bagian utara, sebagian Pamekasan bagian Utara Nov II – Des I +1 N 122.82 1406.71
118 Sumenep bagian tengah dan timur Des I – Des III +2 N 338.34 15897.72
119 Pulau Bawean Nov II – Des I +1 N 0.00 3887.20
120 Kepulauan Kangean Nov I – Nov III +1 N 0.00 1605.15

C. B A L I (ZOM nomor 121 s/d 133)

C.1. “Awal” Musim Hujan 2009/2010 pada 13 Zona Musim (ZOM) di Bali,   diprakirakan berkisar pada bulan Oktober, November, dan Desember 2009.

Sebanyak 3 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Oktober 2009, yaitu Badung, Tabanan bagian selatan dan selatan, Bangli, Gianyar bagian tengah dan utara, Karang Asem bagian barat, Klungkung bagian utara, Kota Denpasar.

Sebanyak 4 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III November 2009, meliputi sebagian Bali bagian tengah dan timur.

Sebanyak 6 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Desember 2009, meliputi Buleleng bagian tengah dan utara, Jembrana bagian utara dan timur, Bangli bagian utara, Karangasem bagian timur, Klungkung bagian timur, dan Nusa Penida.

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim hujan periode 1971-2000, maka sebanyak 5 ZOM sama dengan rata-ratanya, dan sebanyak  8 ZOM mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

C.2. “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010 pada 13 Zona Musim (ZOM) di Bali, diprakirakan umumnya Normal (N).

Sebanyak 10 ZOM, sifat hujannya Normal, meliputi sebagian besar Bali.

Sebanyak 3 ZOM, sifat hujannya Bawah Normal, meliputi Buleleng bagian utara, Jembrana bagian utara, sebagian Karangasem bagian timur, dan Nusa Penida.

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada 13 Zona Musim di Bali, secara rinci disajikan pada Tabel 3. Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Bali disajikan pada Gambar C.1, Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya disajikan pada Gambar C.2., dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 disajikan pada Gambar C.3.

Tabel 3.  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 di Bali

No. ZOM Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Antara Perbandi-ngan Thd Rata-rata

(Dasarian)

Sifat Hujan Luas Sawah
Irigasi

(Ha)

Non Irigasi

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7
121 Buleleng bagian utara, Jembrana bagian utara Des II – Jan I +2 BN 101.86 629.08
122 Bangli bagian utara, Buleleng bagian tengah, Jembrana bagian timur Des I – Des III +1 N 69.30 548.22
123 Buleleng bagian barat daya, Jembrana bagian barat Okt III – Nov II +2 N 29.81 522.32
124 Badung bagian tengah, Bangli bagian selatan, Buleleng bagian selatan, Gianyar bagian tengah, Jembrana bagian selatan, Tabanan bagian tengah Okt III – Nov II +3 N 65.77 1809.55
125 Badung bagian barat, Tabanan bagian selatan Okt I – Okt III +1 N 40.41 603.54
126 Badung bagian selatan, Bangli bagian selatan, Gianyar bagian tengah, Karang Asem bagian barat daya, Klungkung bagian utara, Kota Denpasar Okt II – Nov I +1 N 274.10 1401.52
127 Gianyar bagian selatan, Klungkung bagian selatan Okt III – Nov II 0 N 116.84 950.63
128 Karang Asem bagian selatan, Klungkung bagian timur Nov III – Des II 0 N 2.39 273.49
129 Karang Asem bagian timur Nov III – Des II 0 N 0.28 162.10
130 Badung bagian utara, Bangli bagian tengah, Gianyar bagian utara, Karang Asem bagian barat, Tabanan bagian timur Okt II – Nov I +2 N 0.00 482.46
131 Badung bagian utara, Bangli bagian utara, Buleleng bagian tenggara, Tabanan bagian timur laut, Karang Asem bagian utara Okt III – Nov II +1 N 0.00 161.86
132 Karang Asem bagian Timur laut Nov III – Des II 0 BN 0.00 254.96
133 Nusa Penida Des II – Jan I 0 BN 0.00 0.00


D. NUSA TENGGARA BARAT (ZOM nomor 134 s/d 147)

D.1. “Awal” Musim Hujan 2009/2010 pada 14 Zona Musim (ZOM)  di Nusa Tenggara Barat, diprakirakan berkisar pada bulan November dan Desember 2009.

Sebanyak 10 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III November 2009, meliputi sebagian besar Lombok, sebagian besar Sumbawa bagian barat.

Sebanyak 4 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Desember 2009, meliputi sebagian Lombok bagian utara, Sumbawa Barat bagian timur, Dompu, dan Bima.

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim hujan periode 1971-2000, maka sebanyak 10 ZOM sama dengan rata-ratanya, dan sebanyak 4  ZOM mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

D.2. “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010 pada 14 Zona Musim di   Nusa Tenggara Barat, diprakirakan umumnya Normal (N) dan Bawah Normal (BN).

Sebanyak 9 ZOM, sifat hujannya Normal, meliputi sebagian besar Lombok, Sumbawa Barat bagian timur, Dompu, dan Bima..

Sebanyak 5 ZOM, sifat hujannya Bawah Normal, meliputi  sebagian Lombok bagian utara, Sumbawa Barat bagian barat.

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada 14 Zona Musim di Nusa Tenggara Barat, secara rinci disajikan pada Tabel 4. Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Nusa Tenggara Barat disajikan pada Gambar D.1, Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya disajikan pada Gambar D.2, dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010

Tabel 4.  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 di Nusa Tenggara Barat

No. ZOM Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Antara Perbandi-ngan Thd Rata-rata

(Dasarian)

Sifat Hujan Luas Sawah
Irigasi

(Ha)

Non Irigasi

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7
134 Lombok Barat bagian barat Nov I – Nov III +1 N 703.32 0.00
135 Sebagian Lombok Tengah bagian selatan Okt III – Nov II +3 N 0.00 456.36
136 Sebagian Lombok Tengah bagian barat Okt III – Nov II 0 N 1147.82 326.72
137 Lombok Barat bagian tengah, Lombok Tengah bagian utara Okt III – Nov II +2 N 570.08 76.98
138 Lombok Barat bagian utara, Lombok Timur bagian barat laut Nov III – Des II 0 BN 936.26 0.00
139 Sebagian besar Lombok Timur Nov II – Des I 0 N 2136.78 0.00
140 Sebagian Lombok Tengah bagian tengah Okt III – Nov II 0 N 2032.49 0.00
141 Lombok Tengah bagian tenggara, Lombok Timur bagian selatan Nov II – Des I +1 N 2143.45 0.00
142 Sumbawa bagian barat Nov I – Nov III 0 BN 815.64 9.23
143 Sumbawa bagian utara Nov III – Des II 0 BN 917.44 0.00
144 Sumbawa bagian timur Nov II – Des I 0 BN 1548.47 699.35
145 Sumbawa bagian selatan Nov II – Des I 0 BN 101.76 107.49
146 Bima bagian utara, Dompu bagian utara Des I – Des III 0 N 1096.36 0.00
147 Bima bagian selatan, Dompu bagian selatan Des I – Des III 0 N 1513.69 173.12


E. NUSA TENGGARA TIMUR (ZOM nomor 148 s/d 167)

E.1. “Awal” Musim Hujan 2009/2010 pada 20 Zona Musim (ZOM) di Nusa         Tenggara Timur, diprakirakan berkisar pada bulan Oktober, November dan   Desember  2009.

Sebanyak 1 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Oktober 2009, meliputi Manggarai bagian utara.

Sebanyak 11 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III November 2009, meliputi sebagian besar Flores Barat, Sumba Barat, dan Kupang.

Sebanyak  8 ZOM,  awal musim Hujan antara  dasarian I – III Desember 2009, meliputi Flores Timur, Kepulauan Solor dan Alor, dan Rote.

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim hujan periode 1971-2000, maka sebanyak 9 ZOM sama dengan rata-ratanya, dan sebanyak 11 ZOM mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

E.2.  “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010 pada 20 Zona Musim di Nusa          Tenggara Timur, diprakirakan umumnya Normal (N).

Sebanyak 15 ZOM, sifat hujannya Normal, meliputi sebagian besar Nusa Tenggara Timur.

Sebanyak 5 ZOM, sifat hujannya Bawah Normal, meliputi Kupang dan Rote.

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada 20 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur, secara rinci disajikan pada Tabel 5. Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Nusa Tenggara Timur disajikan pada Gambar E.1, Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya disajikan pada Gambar E.2, dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 disajikan pada Gambar E.3.

Tabel 5.  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 di Nusa Tenggara Timur

No. ZOM Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Antara Perbandi-ngan Thd Rata-rata

(Dasarian)

Sifat Hujan Luas Sawah
Irigasi

(Ha)

Non Irigasi

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7
148 Manggarai bagian barat Okt III – Nov II +2 N 559.42 0.00
149 Manggarai bagian utara Okt II – Nov I +3 N 772.46 0.00
150 Manggarai bagian selatan Okt III – Nov II +2 N 1217.98 0.00
151 Manggarai bagian timur, Ngada bagian barat laut Nov II – Des I +2 N 1094.00 0.00
152 Ende bagian barat, Ngada bagian tenggara Nov II – Des I +2 N 394.95 0.00
153 Ende bagian selatan, Sikka bagian barat daya Nov III – Des II 0 N 120.10 91.97
154 Ende bagian utara, Flores Timur bagian barat laut, Sikka bagian utara Des I – Des III 0 N 371.18 0.00
155 Flores Timur bagian barat daya, Sikka bagian selatan Nov II – Des I +1 N 58.21 0.00
156 Flores, Alor bagian barat, Des I – Des III 0 N 97.87 169.59
157 Alor bagian timur Nov III – Des II +1 N 41.59 0.00
158 Sumba Barat bagian utara Nov II – Des I +1 N 371.55 468.57
159 Sumba barat bagian selatan Nov I – Nov III +1 N 363.65 0.00
160 Sumba Timur bagian utara Des II – Jan I 0 N 711.30 0.00
161 Sumba Timur bagian selatan Nov III – Des II 0 N 652.77 0.00
162 Kupang bagian barat Nov III – Des II 0 N 0.00 716.86
163 Kupang bagian timur Nov III – Des II 0 BN 112.55 249.86
164 Sebagian besar Kupang Nov II – Des I 0 BN 217.11 240.33
165 Timor Tengah Selatan bagian utara Nov II – Des I 0 BN 301.18 0.00
166 Timor Tengah Selatan bagian selatan Nov II – Des I +2 BN 127.10 713.02
167 Belu, Timor Tengah Selatan bagian Timur, Timor Tengah Utara bagian tengah Nov II – Des I 0 BN 882.85 0.00


F. KALIMANTAN (ZOM nomor 168 s/d 183)

F.1. “Awal” Musim Hujan 2009/2010 pada 16 Zona Musim (ZOM) di Kalimantan, diprakirakan berkisar pada bulan Oktober dan November 2009.

Sebanyak 7 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Oktober 2009, meliputi Kalimantan Barat bagian selatan, sebagian besar Kalimantan Tengah bagian selatan dan sebagian besar Kalimantan Selatan.

Sebanyak  9 ZOM, awal musim Hujan  antara dasarian I – III November 2009, meliputi Kalimantan Tengah bagian utara, sebagian Kalimantan Selatan bagian selatan, Kotabaru, dan sebagian besar Kalimantan Timur.

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim hujan periode 1971-2000, maka sebanyak 8 ZOM sama dengan rata-ratanya dan sebanyak 8 ZOM mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

F.2. “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010 pada 16 Zona Musim di Kalimantan, diprakirakan umumnya Normal (N) dan Bawah Normal (BN).

Sebanyak 11 ZOM, sifat hujannya Normal, meliputi Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Tengah, dan sebagian Kalimantan Timur.

Sebanyak 5 ZOM, sifat hujannya Bawah Normal, meliputi Kalimantan Barat bagian selatan, sebagian besar Kalimantan Tengah bagian selatan, dan Kalimantan Timur bagian timur.

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada 16 Zona Musim di Kalimantan, secara rinci disajikan pada Tabel 6. Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Kalimantan disajikan pada Gambar F.1,  Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya disajikan pada Gambar F.2, dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 disajikan pada Gambar F.3.

Tabel 6.  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 di Kalimantan

No. ZOM Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Antara Perbandi-ngan Thd Rata-rata

(Dasarian)

Sifat Hujan Luas Sawah
Irigasi

(Ha)

Non Irigasi

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7
168 Kapuas bagian barat, Ketapang bagian tengah, Kotawaringin Barat bagian tengah, Kotawaringin Timur bagian tengah Sep III – Okt II 0 BN 82.70 74486.21
169 Kota Palangkaraya bagian barat daya, Kotawaringin Timur bagian tengah Okt II – Nov I 0 BN 0.00 20866.17
170 Ketapang bagian tenggara, Kotawaringin barat bagian selatan , Kotawaringin Timur bagian selatan Okt III – Nov II +1 BN 60.24 2412.95
171 Banjar bagian tengah, Barito Kuala bagian tengah, Barito Selatan bagian selatan, Hulu Sei Utara bagian timur, Kapuas bagian selatan, Kotabaru bagian barat, Tabalong bagian selatan, Tapin bagian selatan Okt II – Nov I 0 N 477.20 27200.18
172 Barito Kuala bagian selatan, Kota Banjarmasin, Kotabaru bagian barat daya, Tanah laut bagian utara Okt II – Nov I 0 N 2285.14 8715.78
173 Banjar bagian selatan, Tanah Laut bagian selatan Nov I – Nov III +2 N 211.65 570.48
174 Kotabaru bagian selatan , Tanah Laut bagian timur Nov II – Des I +1 N 0.00 0.00
175 Banjar bagian tengah, Barito Kuala bagian utara, Barito Selatan bagian selatan, Kapuas bagian timur, Kotabaru bagian barat, Tabalong bagian selatan, Tapin bagian utara Okt II – Nov I 0 N 734.90 12707.79
1 2 3 4 5 6 7
176 Kotabaru bagian tengah, Pasir bagian timur Okt I – Okt III 0 N 478.46 2219.71
177 Kotabaru bagian tenggara Nov II – Des I +2 N 0.00 0.00
178 Hulu Sei Selatan bagian utara, Hulu Sei Tengah bagian barat laut, Hulu Sei Utara bagian selatan Okt II – Nov I 0 N 0.00 880.04
179 Barito Selatan bagian utara, Barito Utara bagian selatan, Kapuas bagian timur, Tabalong bagian barat laut Okt III – Nov II 0 N 0.00 0.00
180 Barito Utara bagian selatan, Kapuas bagian tengah, Kotawaringin Timur bagian timur, Kutai bagian selatan Okt III – Nov II +2 N 171.62 2989.41
181 Kota Balikpapan, Kota Samarinda, Kutai bagian tenggara, Pasir bagian utara Okt III – Nov II +3 BN 317.29 5256.10
182 Barito utara bagian tenggara, Berau bagian timur, Bulungan bagian tenggara, Kutai bagian timur, Pasir bagian barat, Tabalong bagian utara Okt III – Nov II +1 BN 398.54 170.41
183 Berau bagian barat, Bulungan bagian tengah, Kutai bagian tengah Okt III – Nov II +1 N 91.66 0.00

G. SULAWESI (ZOM nomor 184 s/d 205)

G.1. “Awal” Musim Hujan 2009/2010 pada 22 Zona Musim (ZOM) di   Sulawesi, diprakirakan berkisar pada bulan Oktober, November dan Desember 2009

Sebanyak 5 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Oktober 2009, meliputi Gorontalo bagian utara, sebagian besar Sulawesi Utara, dan Enrekang.

Sebanyak 11 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III November 2009, meliputi sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Poso bagian tenggara, Sulawesi Tenggara bagian barat, dan Minahasa bagian selatan.

Sebanyak  6 ZOM, awal musim Hujan  antara dasarian I – III Desember 2009, meliputi Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara bagian selatan, Pulau Buton, dan Muna.

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim hujan periode 1971-2000, maka sebanyak 2 ZOM maju (lebih awal) dari rata-ratanya, sebanyak 9 ZOM sama dengan rata-ratanya dan sebanyak 11 ZOM mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

G.2. “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010 pada 22 Zona Musim (ZOM) di Sulawesi, diprakirakan umumnya Normal (N).

Sebanyak 16 ZOM, sifat hujannya Normal, meliputi sebagian besar Sulawesi.

Sebanyak 6 ZOM, sifat hujannya Bawah Normal, meliputi Sulawesi Selatan bagian timur, dan sebagian besar Minahasa.

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada 22 Zona Musim di Sulawesi, secara rinci disajikan pada Tabel 7. Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Sulawesi disajikan pada Gambar G.1, Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya di Sulawesi disajikan pada Gambar G.2, dan  Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 disajikan pada Gambar G.3.

Tabel 7.  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 di Sulawesi

No. ZOM Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Antara Perbandi-ngan Thd Rata-rata

(Dasarian)

Sifat Hujan Luas Sawah
Irigasi

(Ha)

Non Irigasi

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7
184 Barru, Maros bagian barat, Kota Ujungpandang Nov I – Nov III +1 N 5104.73 2835.15
185 Gowa bagian utara, Maros bagian timur Okt III – Nov II +1 N 93.91 1035.32
186 Gowa bagian barat, Jeneponto bagian utara, Takalar bagian timur Nov III – Des II +1 BN 1002.88 0.00
187 Bone bagian selatan, Bulukumba bagian utara, Gowa bagian timur, Sinjai bagian barat Nov I – Nov III 0 BN 747.04 250.84
188 Bantaeng bagian barat, Gowa bagian selatan Nov I – Nov III 0 BN 446.42 0.00
189 Bone bagian timur, Kota Bone, Wajo bagian timur Nov III – Des II +1 BN 4530.81 7126.27
190 Mamuju, Polewali Mamasa bagian barat Nov I – Nov III - 1 N 0.00 603.01
191 Polewali Mamasa bagian utara, Tana Toraja Nov II – Des I - 1 N 160.37 6212.36
192 Mamuju Okt III – Nov II 0 N 0.00 5265.31
193 Enrekang Okt II –  Nov I 0 N 117.76 421.28
194 Poso bagian tenggara Nov I – Nov III 0 N 153.79 187.73
195 Kolaka Nov II –  Des I 0 N 1286.97 0.00
196 Buton bagian barat laut, Kendari bagian barat daya Des I – Des III 0 N 1148.97 0.00
197 Kendari bagian selatan Nov II –  Des I 0 N 372.43 1053.46
198 Buton bagian tengah, Muna bagian barat Okt III – Nov II 0 N 84.12 65.41
199 Buton bagian timur, Muna bagian timur Nov III – Des II 0 N 204.51 23757.01
1 2 3 4 5 6

7

200 Selayar bagian utara Nov II –  Des I 0 N 0.00 0.00
201 Bolaang Mangondow bagian barat laut, Buol Toli-Toli bagian timur, Gorontalo bagian utara Okt II –  Nov I +2 N 766.17 0.00
202 Bolaang Mangondow bagian utara, Minahasa bagian barat Okt II –  Nov I +2 N 969.35 0.00
203 Bolaang Mangondow bagian timur, Minahasa bagian tengah Okt I – Okt III +1 BN 378.27 0.00
204 Bitung, Bolaang Mangondow bagian timur, Minahasa bagian timur Okt III – Nov II +1 N 1353.60 0.00
205 Kota Manado, Minahasa bagian utara Sep III – Okt II 0 BN 429.35 51.87


H. MALUKU (ZOM nomor 206 s/d 213)

H.1.  “Awal”   Musim  Hujan  2009/2010  pada  8 Zona Musim (ZOM)  di Maluku  diprakirakan  berkisar  pada  bulan  November dan Desember 2009.

Sebanyak 4 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III November 2009, meliputi Maluku Utara bagian utara, Pulau Seram bagian utara, dan Kepulauan Tanimbar.

Sebanyak  4 ZOM, awal musim Hujan  antara dasarian I – III Desember 2009, meliputi Sanana, Pulau Buru, dan Saumlaki.

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim Hujan periode 1971-2000, maka sebanyak 3 ZOM sama dengan rata-ratanya dan sebanyak  5  ZOM mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

H.2. “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010 pada 8 Zona Musim di Maluku, diprakirakan umumnya Normal (N) dan Bawah          Normal (BN).

Sebanyak 4 ZOM, sifat hujannya Normal, meliputi Maluku Utara bagian utara, Pulau Seram bagian utara, dan Kepulauan Tanimbar.

Sebanyak 4 ZOM, sifat hujannya Bawah Normal, meliputi Sanana, Pulau Buru, dan Saumlaki.

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada 8 Zona Musim di Maluku, secara rinci disajikan pada Tabel 8. Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Maluku disajikan pada Gambar H.1, Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya disajikan pada Gambar H.2, dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 disajikan pada Gambar H.3.

Tabel 8.  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 di Maluku

No. ZOM Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Antara Perbandi-ngan Thd Rata-rata

(Dasarian)

Sifat Hujan Luas Sawah
Irigasi

(Ha)

Non Irigasi

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7
206 Halmahera Tengah, Maluku Utara bagian timur dan utara Okt II – Nov I 0 N 370.27 133.57
207 Maluku Utara bagian barat Nov III – Des II 0 BN 0.00 0.00
208 Maluku Tengah bagian barat laut Des I – Des III 0 BN 1056.71 0.00
209 Maluku Tengah bagian utara Nov II – Des I 0 N 0.00 440.32
210 Maluku Tengah bagian timur Des I – Des III +1 BN 0.00 0.00
211 Maluku Tenggara bagian timur Nov I – Nov III 0 N 0.00 0.00
212 Maluku Tenggara bagian barat Nov I – Nov III +1 N 0.00 0.00
213 Maluku Tenggara bagian tengah Des I – Des III +1 BN 0.00 0.00


I. PAPUA (ZOM nomor 214 s/d 220)

I.1.  “Awal” Musim Hujan 2009/2010 pada 7 Zona Musim (ZOM) di Papua, diprakirakan berkisar pada bulan Oktober, November, dan Desember 2009.

Sebanyak 1 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Oktober 2009, meliputi Kota Jayapura.

Sebanyak 5 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III November 2009, meliputi sebagian Sorong bagian utara, sebagian Manokwari, sebagian Jayapura, Jayawijaya, dan Puncak Jaya.

Sebanyak 1 ZOM, awal musim Hujan antara dasarian I – III Desember 2009, meliputi Merauke.

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim hujan periode 1971-2000, maka sebanyak 4 ZOM sama dengan rata-ratanya dan sebanyak  3 ZOM mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

I.2.   “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010 pada 7 Zona Musim di Papua,  diprakirakan umumnya Normal (N).

Sebanyak 2 ZOM, sifat hujannya Atas Normal, meliputi sebagian besar Jayapura dan Kota Jayapura.

Sebanyak 5 ZOM, sifat hujannya Normal, meliputi sebagian Sorong bagian utara, sebagian Manokwari, sebagian Jayawijaya dan Puncak Jaya, dan Merauke.

Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 pada 7 Zona Musim di Papua, secara rinci disajikan pada Tabel 9. Peta Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 di Papua disajikan pada Gambar I.1, Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 Terhadap Rata-ratanya disajikan pada Gambar I.2, dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 disajikan pada Gambar I.3.

Tabel 9.  Prakiraan Musim Hujan 2009/2010 di Papua

No. ZOM Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Antara Perbandi-ngan Thd Rata-rata

(Dasarian)

Sifat Hujan Luas Sawah
Irigasi

(Ha)

Non Irigasi

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7
214 Sorong bagian timur laut, Manokwari bagian barat laut Okt III – Nov II 0 N 0.00 0.00
215 Manokwari bagian utara Nov II – Des I +2 N 0.00 72.82
216 Sebagian Manokwari bagian timur Nov II – Des I 0 N 0.00 26.10
217 Jayapura bagian tengah, Jayawijaya bagian utara Nov II – Des I 0 AN 0.00 0.00
218 Fak Fak bagian timur, Jaya wijaya bagian tengah, Paniai bagian timur, Yapen Waropen bagian tenggara Nov I – Nov III +2 N 0.00 11.89
219 Sebagian Jayapura bagian timur, Kota Jayapura Okt II – Nov I +2 AN 0.00 681.72
220 Marauke bagian selatan Nov III – Des II 0 N 0.00 27.78

IV.  PRAKIRAAN HUJAN KUMULATIF

PERIODE OKTOBER 2009 – MARET 2010

DI  LUAR ZONA MUSIM (NON ZOM)

A.  PRAKIRAAN “CURAH HUJAN” KUMULATIF PERIODE OKTOBER 2009– MARET 2010

Curah hujan kumulatif selama periode Oktober 2009 sampai dengan  Maret 2010 di wilayah luar Zona Musim, diprakirakan umumnya berkisar antara 1000 – 2000 mm, kecuali sebagian besar Sulawesi Tengah, Gorontalo bagian selatan, Sulawesi Selatan bagian tengah, Sulawesi Tenggara bagian timur, pulau Buru bagian selatan, dan sebagian pulau Seram bagian selatan curah hujannya kurang dari 1000 mm, sedangkan pesisir barat Sumatera Barat, sekitar Bogor, Kalimantan Barat bagian timur, sebagian Maluku Utara, sekitar Nabire, dan Tanah Merah bagian barat curah hujan lebih dari 2000 mm.

Prakiraan curah hujan secara lebih rinci disajikan pada Tabel 10.  Peta Prakiraan Curah Hujan Periode Oktober 2009 – Maret 2010 di Luar Zona Musim disajikan pada Gambar J.1.

Tabel 10.

Prakiraan Curah Hujan Kumulatif

Periode Oktober 2009 – Maret 2010

di Luar Zona Musim

Prakiraan Curah Hujan

(Milimeter)

Daerah

1 2
500 – 1000 Sebagian besar Sulawesi Tengah, Gorontalo bagian selatan, Sulawesi Selatan bagian tengah, Sulawesi Tenggara bagian timur, pulau Buru bagian selatan, dan sebagian pulau Seram bagian selatan.
1000 – 1500 Sebagian besar Nanggro Aceh Darussalam, Sumatera Utara bagian timur, sekitar Pontianak, Sulawesi Tengah bagian tengah, dan sebagian besar Papua.

Prakiraan Curah Hujan

(Milimeter)

Daerah

1 2
1500 – 2000 Pesisir barat Sumatera Utara, sebagian Sumatera Barat, pesisir barat bengkulu dan Lampung, sebagian besar Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, sekitar Luwu, Sorong bagian selatan, Manokwari bagian selatan, Biak, Serui, Timika, dan Tanah Merah bagian timur.
> 2000 Pesisir barat Sumatera Barat, sekitar Bogor, Kalimantan Barat bagian timur, sebagian Maluku Utara, sekitar Nabire, dan Tanah Merah bagian barat.

B. PRAKIRAAN SIFAT HUJAN KUMULATIF OKTOBER 2009 – MARET 2010 TERHADAP RATA-RATANYA (1971 -  2000)

Sifat hujan kumulatif selama periode Oktober 2009 sampai dengan Maret 2010 di luar Zona Musim, adalah perbandingan antara curah hujan yang diprakirakan terhadap rata-rata tahun 1971-2000 pada masing-masing daerah dalam periode yang sama. Sifat hujan tersebut dibagi dalam tiga kategori yaitu Atas Normal, Normal, dan Bawah Normal.

Sifat hujan kumulatif selama periode Oktober 2009 sampai dengan  Maret 2010 di wilayah luar Zona Musim, diprakirakan umumnya Normal (N), kecuali beberapa tempat di Aceh, Bengkulu, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Bawah Normal (BN). Sementara itu, beberapa tempat di Papua sifat hujannya Atas Normal (AN).

Sifat hujan secara rinci disajikan pada Tabel 11. Peta Sifat Hujan periode Oktober 2009 – Maret 2010 terhadap rata-ratanya (1971-2000) di Luar Zona Musim disajikan pada Gambar J.2.

Tabel 11

Prakiraan Sifat Hujan Kumulatif

Periode Oktober 2009 – Maret 2010 Terhadap Rata-Ratanya

di Luar Zona Musim

Sifat Hujan Daerah
1 2
Atas Normal Sebagian besar Paniai, Yapenwaropen, Jayapura, dan Jayawijaya bagian timur.
Normal Sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau Kepulauan, Tanjung Pandan, Kalimantan Barat bagian timur, Kalimantan Timur bagian utara, sebagian besar Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan bagian tengah, bagian selatan pulau Buru dan pulau Seram, dan sebagian besar Papua

.

Bawah Normal Aceh Tengah, Sebagian Aceh Tenggara, pesisir barat Bengkulu dan Lampung, Kalimantan Barat bagian barat, Luwuk, Gorontalo bagian selatan, pulau Buru bagian selatan, dan sebagian pulau Seram bagian selatan.

V.   LUAS AREAL PERSAWAHAN PADA ZONA MUSIM (ZOM) TERHADAP PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2009/2010

A. LUAS AREAL PERSAWAHAN TERHADAP PRAKIRAAN AWAL MUSIM HUJAN 2009/2010

Luas areal persawahan pada Zona Musim terhadap Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010 selengkapnya disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12.  Luas Areal Persawahan pada Zona Musim terhadap

Prakiraan Awal Musim Hujan 2009/2010

Daerah Prakiraan Awal Musim Hujan 2009 – 2010
( Waktu dan Luasan / Hektar )
Sept Okt Nov Des
Irigasi Non Irigasi Irigasi Non Irigasi Irigasi Non Irigasi Irigasi Non Irigasi
Sumatera 15850.35 19258.03 27223.90 18217.75 24145.22 9888.69 - -
Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta - - 14491.18 199657.57 36234.20 540278.04 21431.89 145998.84
Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta - - 52570.45 476045.48 31671.31 398068.47 - -
Jawa Timur - - 3703.99 142252.49 20469.58 905572.34 8622.49 372411.64
Bali - - 314.51 2487.53 212.42 3444.36 173.83 1867.85
Nusa Tenggara Barat - - - - 11199.81 1676.12 4463.75 173.12
Nusa Tenggara Timur - - 772.46 - 5587.99 1421.92 2107.35 1228.29
Kalimantan - - 4058.40 147075.88 1251.00 11399.35 - -
Sulawesi - - 2660.90 473.15 9803.37 17508.58 6887.17 30883.27
Maluku - - 370.27 133.57 - 440.32 1056.71 -
Papua - - - 681.72 - 110.81 - 27.78
Total (Ha) 15850.35 19258.03 106166.04 987025.13 140574.90 1889809.00 44743.18 552590.79

Luas areal persawahan irigasi terbesar diprakirakan saat awal musim hujan berlangsung pada dasarian I – III November 2009 (140.574,90 hektar), selanjutnya pada dasarian I – III Oktober 2009 (106.166,04 hektar), pada dasarian I – III Desember 2009 (44.743,18 hektar), dan  pada dasarian I – III September 2009 ( 15.850,35 hektar).

Luas areal persawahan non irigasi terbesar diprakirakan saat awal musim hujan berlangsung pada dasarian I – III November 2009 (1.889.809,00 hektar), selanjutnya pada dasarian I – III Oktober 2009 (987.025,13 hektar),  pada dasarian I – III Desember 2009 (552.590,79 hektar), dan  pada dasarian I – III September 2009 ( 19.258,03 hektar).

B. LUAS AREAL PERSAWAHAN PADA “MAJU MUNDURNYA” AWAL MUSIM HUJAN 2009/2010

Luas areal persawahan pada maju mundurnya awal musim Hujan 2009/2010 selengkapnya disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13.  Luas areal persawahan pada “Maju Mundurnya”

Awal Musim Hujan 2009/2010

Daerah Maju Mundur Awal Musim Hujan 2009 – 2010
Maju Lebih Awal) Mundur (lebih Lambat) Sama dengan Rata-rata
Irigasi Non Irigasi Irigasi Non Irigasi Irigasi Non Irigasi
Sumatera - - 15151.28 14008.90 52068.19 33355.57
Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta - - 26555.38 393149.18 45601.88 492785.28
Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta 27814.92 178124.74 16972.81 388304.74 39454.03 307684.46
Jawa Timur - - 25091.67 1152947.50 7704.39 267288.97
Bali - - 581.24 6158.56 119.51 1641.18
Nusa Tenggara Barat - - 3416.84 533.34 12246.72 1315.91
Nusa Tenggara Timur - - 5000.90 1181.59 3466.89 1468.61
Kalimantan - - 1251.00 11399.35 4058.40 147075.88
Sulawesi 160.37 6815.37 14199.71 10996.74 4991.36 31052.90
Maluku - - - - 1426.98 573.89
Papua - - - 766.43 - 53.88
Total (Ha) 27975.29 184940.12 108220.83 1979446.33 171138.35 1284296.51

Luas areal persawahan irigasi terbesar diprakirakan terdapat pada awal musim hujan yang sama dengan rata-ratanya yaitu 171.138,35 hektar. Selanjutnya yang mundur dari rata-ratanya sebesar 108.220,83 hektar, sedangkan yang maju dari rata-ratanya sebesar 27.975,29 hektar.

Luas areal persawahan non irigasi terbesar diprakirakan terdapat pada awal musim hujan yang mundur dari rata-ratanya yaitu 1.979.446,33 hektar. Selanjutnya yang sama dengan rata-ratanya sebesar 1.284.296,51 hektar, sedangkan yang maju dari rata-ratanya sebesar 184.940,12 hektar.

C. LUAS AREAL PERSAWAHAN TERHADAP PRAKIRAAN SIFAT   HUJAN MUSIM HUJAN 2009/2010

Luas areal persawahan pada Zona Musim terhadap Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009/2010 selengkapnya disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14.  Luas Areal Persawahan Pada Zona Musim Terhadap

Prakiraan “Sifat Hujan” Musim Hujan 2009/2010

Daerah Prakiraan Sifat Hujan Musim Hujan 2009 – 2010
Bawah Normal Normal Atas Normal
Irigasi Non Irigasi Irigasi Non Irigasi Irigasi Non Irigasi
Sumatera 20572.58 17042.27 32470.84 2930.92 14176.05 27391.29
Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta 10507.17 204297.96 61650.10 681636.50 - -
Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta 15994.41 185590.47 65727.94 637508.76 2519.41 51014.72
Jawa Timur 17424.40 872847.15 15371.66 547389.32 - -
Bali 101.86 884.04 598.90 6915.69 - -
Nusa Tenggara Barat 4319.58 816.07 11343.98 1033.18 - -
Nusa Tenggara Timur 1640.78 1203.21 6827.02 1447.00 - -
Kalimantan 858.77 103191.83 4450.63 55283.39 - -
Sulawesi 7534.76 7428.97 11816.67 41436.04 - -
Maluku 1056.71 - 370.27 573.89 - -
Papua - - - 138.59 - 681.72
Total (Ha) 80011.00 1393301.96 210628.01 1976293.27 16695.46 79087.73

Luas areal persawahan irigasi terbesar diprakirakan terdapat pada sifat hujan Normal (210.628,01 hektar). Selanjutnya pada sifat hujan Bawah Normal diprakirakan sebesar 80.011,00 hektar dan sifat hujan Atas Normal sebesar 16.695,46 hektar.

Luas areal persawahan non irigasi terbesar diprakirakan terdapat pada sifat hujan Normal (1.976.293,27 hektar). Selanjutnya pada sifat hujan  Bawah Normal sebesar 1.393.301,96 hektar dan sifat hujan Atas Normal sebesar 79.087,73 hektar.

sumber : iklim.bmg.go.id

About these ads